Menulis adalah kemerdekaan atas ide, gagasan, pikiran yang tidak dibekuk oleh masa. Karenanya, peletupan emosi tidak sekedar “kemarahan”, namun dapat dilampiaskan dalam kanvas bagi pelukis, suara bagi penyanyi, syair bagi penyair, begitu pula tulisan bagi penulisnya. Demikianlah pemenuhan ruang dalam kata.
-- Saifuddin Al-Mughniy --
----------
Kata Dalam Ruang
Oleh:
Saifuddin Al-Mughniy
Rintik hujan di kotaku, membuatku tak
beranjak dari tempatku mengasah dalam puing kertas yang di tulis oleh para
penyair yang lelah mencari judul. Secangkir kopi hitam tanpa gula seloroh
temanku menyapaku, bang saef begitu ia menyapaku. Kerut keningku menatapnya
ranum dengan buku kecil Nietzsche dalam Syahwat Keabadian dan Islam Tuhan,
Islam Manusia yang ditulis oleh Haidar Bagir terletak di meja disatu warkop
bangsawan orang atas (warkop Turatea) begitulah aku menyebutnya dengan inspiring
aforisme Platonik yang disebutnya “Arete” yang berarti keutamaan atau manusia
teratas.
Dalam dekapan waktu sosok perempuan
telah mengepulkan asap rokoknya dengan gaya erotis pakaian terbuka, seketika
naluriku berkesimpulan bahwa “perempuan itu lagi memarahi dirinya”, yah, sebab
saya melihatnya dengan kepulan asapnya yang tak beraturan berbeda dengan
cerutunya Albert Camus, Bertrand Russel, serta tokoh revolusioner Ernesto De
Guecevara yang mengepul dengan penuh estotik.
Mungkin saya keliru memahami karena saya
bukan perokok. Tetapi, makna gesturnya memperlihatkan aurahnya menggelinding
dengan “amarah” bukan “keramahan”. Yah, mungkin ini juga adalah kilas balik
pembacaan kita tentang Juan Paul Sartre dengan Simone de Bauvoir mahasiswa
filsafat, cantik dan pandai. Dalam catatan sejarah Sartre, Simone de Bauvoir
dikenal sebagai pemikir “feminis berhaluan eksistensialisme.”
Namun di balik itu semua, gumamku tak
cukup kuat menghadirkan mimpiku terhadap perempuan “perokok itu”. Yah,
sudahlah, minimal dibalik kaca aku telah melihatnya berdamai dengan sebatang
rokoknya hingga ia pergi berlalu seperti angin membawa butiran debu.
Aku pun merawat diriku dalam ruang dalam
balutan hujan, tak menghitung lagi seberapa besar butiran hujan itu turun lalu
berhenti. Tetapi kata-kata “puitika” sang filsuf sekelas Plato mendorongku
mengilhamkan sebait tulisan itu dalam ruang dan waktu. Emberco Eco, mengatakan
bahwa menulis itu keindahan bahkan tak seindah politisi bergumam.
Menulis adalah kemerdekaan atas ide,
gagasan, pikiran yang tidak dibekuk oleh masa. Karenanya, peletupan emosi
tidak sekedar “kemarahan”, namun dapat dilampiaskan dalam kanvas bagi pelukis,
suara bagi penyanyi, syair bagi penyair, begitu pula tulisan bagi penulisnya.
Demikianlah pemenuhan ruang dalam kata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar