Selasa, 26 September 2017

Kata Dalam Ruang


Menulis adalah kemerdekaan atas ide, gagasan, pikiran yang tidak dibekuk oleh masa. Karenanya, peletupan emosi tidak sekedar “kemarahan”, namun dapat dilampiaskan dalam kanvas bagi pelukis, suara bagi penyanyi, syair bagi penyair, begitu pula tulisan bagi penulisnya. Demikianlah pemenuhan ruang dalam kata. 
-- Saifuddin Al-Mughniy --





----------




Kata Dalam Ruang


Oleh: Saifuddin Al-Mughniy

Rintik hujan di kotaku, membuatku tak beranjak dari tempatku mengasah dalam puing kertas yang di tulis oleh para penyair yang lelah mencari judul. Secangkir kopi hitam tanpa gula seloroh temanku menyapaku, bang saef begitu ia menyapaku. Kerut keningku menatapnya ranum dengan buku kecil Nietzsche dalam Syahwat Keabadian dan Islam Tuhan, Islam Manusia yang ditulis oleh Haidar Bagir terletak di meja disatu warkop bangsawan orang atas (warkop Turatea) begitulah aku menyebutnya dengan inspiring aforisme Platonik yang disebutnya “Arete” yang berarti keutamaan atau manusia teratas.
Dalam dekapan waktu sosok perempuan telah mengepulkan asap rokoknya dengan gaya erotis pakaian terbuka, seketika naluriku berkesimpulan bahwa “perempuan itu lagi memarahi dirinya”, yah, sebab saya melihatnya dengan kepulan asapnya yang tak beraturan berbeda dengan cerutunya Albert Camus, Bertrand Russel, serta tokoh revolusioner Ernesto De Guecevara yang mengepul dengan penuh estotik.
Mungkin saya keliru memahami karena saya bukan perokok. Tetapi, makna gesturnya memperlihatkan aurahnya menggelinding dengan “amarah” bukan “keramahan”. Yah, mungkin ini juga adalah kilas balik pembacaan kita tentang Juan Paul Sartre dengan Simone de Bauvoir mahasiswa filsafat, cantik dan pandai. Dalam catatan sejarah Sartre, Simone de Bauvoir dikenal sebagai pemikir “feminis berhaluan eksistensialisme.”
Namun di balik itu semua, gumamku tak cukup kuat menghadirkan mimpiku terhadap perempuan “perokok itu”. Yah, sudahlah, minimal dibalik kaca aku telah melihatnya berdamai dengan sebatang rokoknya hingga ia pergi berlalu seperti angin membawa butiran debu.
Aku pun merawat diriku dalam ruang dalam balutan hujan, tak menghitung lagi seberapa besar butiran hujan itu turun lalu berhenti. Tetapi kata-kata “puitika” sang filsuf sekelas Plato mendorongku mengilhamkan sebait tulisan itu dalam ruang dan waktu. Emberco Eco, mengatakan bahwa menulis itu keindahan bahkan tak seindah politisi bergumam.
Menulis adalah kemerdekaan atas ide, gagasan, pikiran yang tidak dibekuk oleh masa. Karenanya, peletupan emosi tidak sekedar “kemarahan”, namun dapat dilampiaskan dalam kanvas bagi pelukis, suara bagi penyanyi, syair bagi penyair, begitu pula tulisan bagi penulisnya. Demikianlah pemenuhan ruang dalam kata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar